Kisah Sufi - Abu Bakar Al-kattani,izin dan keridhaan orang tua.

.
.
-- -->
kisahsufidanmutiarahikmah.com - Abu Bakar Al-kattani bin Ali bin Ja'far bin Al-kattani lahir dibagdad dan meninggal di mekkah setelah menetap disana setelah 30 tahun.
Abu Bakar Al-kattani masih terhitung salah seorang anggota keluarga dari salah seorang toko sufi yang sangat terkenal dengan kedisiplinan dirinya, yakni Imam Junaid Al-bagdadi.

Abu Bakar Al-kattani menetap di mekah setelah umurnya menginjak usia dewasa, awal kedatangannya di mekah sebenarnya hanyalah untuk menunaikan ibadah haji yang waktu mudanya dulu tak sempat ia tunaikan.

Dikisahkan bahwa dulu Abu Bakar Al-kattani pernah gagal dalam menunaikan ibadah haji, ketika masih remaja Abu Bakar Al-kattani sudah berkeinginan untuk menunaikan ibadah haji, keinginannya begitu kuat sehingga minta izinlah ia kepada ibunya untuk melakukan perjalanan menuju mekah.
Dan Ibunya pun mengizinkannya pergi walau dengan hati yang berat, sebab tak ada seorang pun lagi yang akan tinggal bersamanya.
setelah mendapatkan izin dari ibunya maka Abu Bakar pun mulai mengemas perbekalan yang akan di bawanya dalam perjalanan menuju mekah.
setelah selesai maka berangkatlah Abu Bakar menuju mekah, ia berangkat menyusuri padang pasir yang luas.

di dalam perjalanannya melintasi paadang pasir tersebut tiba-tiba Abu Bakar melihat sesosok mayat yang tersenyum kepadanya. ia sangat heran dan kemudian bertanya kepada si mayat '' mengapakah engkau masih dapat tersenyum, padahal engkau sudah mati ? ''
di dalam pikirannya Abu Bakar terus merenungi apakah yang sedang terjadi dengan dirinya.
kemudian, si mayat pun menjawabnya '' aku masih dapat tersenyum hanya karena kasih Allah semata-mata ''

Abu Bakar pun mengeryitkan dahinya, ia mencoba mencerna apa yang dikatakan si mayat.
sambil memulai perjalanannya ia pun masih terus merenungi apa yang tadi di bicarakan si mayat.
setelah jauh berjalan, ia pun duduk di suatu tempat yang danggapnya pas untuk melepas lelah barang sejenak.
Kemudian ia pun membuka perbekalan yang telah ia sediakan sa'at akan berangkat, setelah ia cermati ternyata perbekalan yang dibawanya masih ada yang kurang, sehingga membuatnya harus kembali lagi untuk menjemputnya.
Maka Abu Bakarpun  kembali menuju rumahnya untuk mengambil perbekalannya yang tertinggal tersebut.

sesampainya di rumah, ternyata sang ibu telah menunggunya di depan pintu rumah.
karena bingung Abu Bakar pun bertanya '' wahai ibuku terkasih, bukankah tadi ibu telah memberi ku izin untuk melakukan perjalanan ini ? ''
dan kemudian ibunya pun menjawab dengan mata berkaca-kaca '' ya, tapi tanpa engkau aku tak sanggup untuk melihat rumah ini, semenjak engkau pergi aku berada disini terus menerus. ''

Ternyata apa yang disampaikan ibunya tadi membuatnya sadar untuk tidak lagi meninggalkan ibunya seorang diri dirumah.
dan itulah sebabnya ia tak mau lagi mengarungi padang pasir sebelum ibunya meninggal.
Dan setelah ibunya wafat, Abu Bakar melanjutkan lagi apa dulunya sempat tertunda ketika ia remaja dulu.
setelah ia menunaikan ibadah haji, ia menetap di mekah selama 30 tahun dan kemudian wafat pada tahun 322 Hijriah / 934 masehi.

Hikmah yang bisa kita ambil dari cerita ini adalah, betapapun kita menginginkan sesuatu. ingatlah bahwa kita seharusnya meminta keridhaan dari orang tua kita, karna disanalah akar dari sebuah pencapaian, disebabkan  '' ridha allah itu beserta ridha orang tua ''.. dan izin sangatlah berbeda dengan keridhaan, keridhaan adalah sesuatu mendasar kepada keadaan hati. berbeda jauh dengan izin, izin bisa saja hanya sampai lidah. jadi pada intinya tak semua izin itu disertai dengan keridhaan.
nah, begitulah kira-kira apa yang disiratkan oleh kisah diatas dan semoga kita semua selalu mendapat limpahan rahmat dan petunjuk-Nya. amin..!!

terima kasih telah berkunjung ke situs kisahsufidanmutiarahikmah.com

baca juga kisah sufi lainnya :
kisah Abu Sa'id dan iblis yang datang kedalam mimpinya


.
.
-->

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kisah Sufi - Abu Bakar Al-kattani,izin dan keridhaan orang tua."

Post a Comment