kisah Daud bin Nushair dan wanita yang ditinggal pergi seorang yang sangat dicintainya.

.
.
-- -->
kisahsufidanmutiarahikmah.com - Abu Sulaiman Duad bin Nushair Ath-tha'i adalah seorang tokoh sufi dari kufah, ia biasa dipanggil dengan nama Daud bin Nushair saja.
Daud bin Nushair adalah salah seorang tokoh sufi yang sangat dikenal dengan kesederhanannya, bahkan uang sebanyak dua puluh dinar ia habiskan selama dua puluh tahun,  yang sama saja artinya ia menghabiskan satu dinar uangnya itu untuk satu tahun, dan akibatnya banyak orang yang mencela perbuatannya itu.
mulai dari, seperti bahwa daud hanya menabung untuk mementingkan dirinya sendiri. dan ada pula yang mengatakan bahwa daud telah terbenam di dalam kubangan kekikiran.

Daud bin Nushair sejak kecil memang telah sering dicekam perasaan duka yang tak bisa kita ungkapkan dengan kata-kata, akibat hal itu di masa kecilnya Daud bin Nushair lebih senang hidup menyendiri dan mennggalkan khalayak ramai.
dan yang paling mengesankan bagi Daud bin Nushair kecil ketika ia berada di tempat-tempat sepi adalah hatinya merasa tenang dan tak ada kegundahan. sehingga secara tak langsung ia telah melatih hatinya menghindari gejolak nafsu duniawi.

dan setelah menginjak usia remaja, pengalaman Daud bin Nushair yang sangat tak terlupakan adalah ketika ia melihat seorang wanita yang sedang berkabung karena ditinggal mati oleh suaminya, wanita itu tiada henti-hentinya menangis, begitu dalam duka yang ia rasakan. didalam tangisnya wanita meratap '' pipimu yang sebelah manakah yang telah keriput, lalu matamu yang sebelah manakah yang mulai kabur ?? ''
mendengar ratapan wanita itu, hati daud seperti disayat dengan sebelah pedang yang sangat tajam. ia tenggelam dalam ratapan wanita itu, dan sejak saat itu Daud bin Nushair pun sadar jika ketentuan Allah itu pasti berlaku, kematian bukanlah suatu hal yang bisa di elakkan maupun ditunda dan juga kematian akan datang tanpa memandang umur. tak perlu menunggu tua, yang muda pun kalau tuhan telah berkehendak, izra'il dengan tangkas bakal datang menjemput.
didalam hatinya Daud berkata '' jika demikian halnya, mengapa masih banyak manusia yang enggan untuk mempersiapkan bekalnya di akhirat kelak ??
di lain hal ia juga melihat, jika seseoarang mencintai sesuatu yang selain Allah, maka orang itu pun pasti akan merasakan sakitnya kehilangan sebagaimana yang dirasakan wanita tadi.
dan jika memang demikian juga halnya, kenapa tidak mencintai Allah yang maha kekal saja ?
ungkap bathin Daud bin Nushair terhadap dirinya.

dan sejak sa'at itu Daud bin Nushair pun selalu dikecamuki perasaan-perasaan yang tak tentu, sehingga akhirnya Daud pun mencari seorangg guru yang mampu membimbingnya sekaligus menjelaskan tentang perasaan bathin yang di alaminya itu.
sehingga ia pun berguru kepada salah satu tokoh sufi yang bernama Abu Hanifah, kepada Abu Hanifah tersebut Daud bin Nushair menceritakan semua pengalaman-pengalaman bathin yang dialaminya tersebut.
Daud bin Nushair juga berkata kepada gurunya '' kini, dunia ini tidak lah lagi dapat menarik hatiku, dan aku tidak tahu apakah gerangan yang sedang terjadi terhadap diriku, bahkan tak kutemukan kitab-kitab yang menjelaskan tentang apa yang ku alami saat ini ''
kemudian gurunya (Abu Hanifah) pun menyarankan '' hindarilah manusia-manusia yang lain ''
mendengar apa yang disarankan gurunya itu, Daud bin Nushair pun memalingkan diri dari bertemu dengan manusia-manusia lain. ia mengurung dirinya sendiri didalam kamar.

setelah sekian lama waktu berselang, Abu Hanifah heran, kenapa Daud bin Nushair yang selaku murid tidak lagi mengunjunginya selaku seorang guru.
karena penasaran akhirnya pun Abu Hanifah mengunjungi rumah Daud bin Nushair untuk mencari tahu apaakah gerangan yang sedang dilakukan muridnya.
dan sesampainya disana Abu Hanifah terkejut melihat Daud yang selama ini sedang mengurung diri didalam kamar.
'' wahai muridku, yang saya maksudkan itu bukanlah seperti yang engkau lakukan sekarang ini, yang seharusnya kau lakukan itu adalah duduk di kaki para imam dan kemudian mendengarkan segala yang diajarkannya tanpa membantah walau satu kata pun. dengan demikian engkau akan lebih memahami masalah-masalah yang mereka perbincangkan itu dari pada mereka sendiri '' ungkap Abu Hanifah memberi nasehat kepada Daud bi Nushair.

dan setelah Daud memahami apa yang dimaksudkan Abu Hanifah kepadanya maka Daud pun mulai mengikuti pelajaran-pelajarannya kembali.
sesuai nasihat Abu Hanifah, setahun lamanya ia duduk dikaki para imam tanpa sedikitpun pun berkata-kata. ia menerima semua keterangan-keterangan itu dengan sungguh.
dan sa'at ia bertemu dengan Habib Ar-ra'i, ia diajarkan bagaimana jalan bertasawuf yang akhirnya ia tekuni dengan tawakkal. ia membuang semua buku-buku miliknya ke sungai dan kemudian ia baru benar-benar mengasingkan diri serta membuang semua harapan-harapan yang dulunya ia gantungkan kepada manusia-manusia lain.
memang seperti itulah konsep tawakkal dalam dunia tasawuf, kita tidak lagi menyibukkan diri dengan membaca kitab-kitab, akan tetapi orientasinya lebih kepada '' di dalam diri ''.

di dalam hal yang demikian kita mengenal beberapa tingkatan :
1. ilmul yaqin - yaitu sebuah keyakinan yang dilandasi pengetahuan, baik yang didapat dari Al-qur'an maupun yang didapat dari hadist juga kitab-kitab lain.
2. ainul yaqin - yaitu sebuah keyakinan yang dilandasi mata hati ( bashirah ).
3. haqqul yaqin - yaitu sebuah keyakinan yang haq, dikarenakan tidak ada lagi keraguan sama sekali yang bercokol di hatinya.

itulah sekelumit dari kisah hidup Abu Sulaiman Duad bin Nushair Ath-tha'i, semoga bisa bermanfaat bagi kita semua.
dan terimakasih telah berkunjung ke www.kisahsufidanmutiarahikmah.com.
barakallahu...!!!

baca juga kisah sufi liannya ;
kisah Makruf Al-kharki yang menolak mentah-mentah konsep trinitas yang diajarkan gurunya disekolah nasrani



.
.
-->

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "kisah Daud bin Nushair dan wanita yang ditinggal pergi seorang yang sangat dicintainya."

Post a Comment