perjuangan berat An-nuri dalam memisahkan antara hati dengan hawa nafsunya yang masih bersatu-padu

.
.
-- -->
kisah sufi - Kisah hidup para sufi memanglah sangat banyak menyimpan berbagai mutiara hikmah yang bisa kita ambil didalamnya, para sufi sebenarnya tidak lah berasal dari dataran timur tengah saja, seperti yang kita ketahui bahwa di tanah nusantara juga banyak tokoh sufi yang kita kenal karena perannya dalam menyebarkan agama islam di negeri ini, sebut saja kalau di daerah jawa yang paling kontroversial adalah Syekh siti jenar, dan kalau di tanah sumatra adaah Syekh Abu Rauf, dan jika ditanah minangkabau yang paling terkenal adalah Syek Burhanudin ulakani, dan insyaallah akan kita kisahkan pada artikel selanjutnya.

Pada kesempatan kali ini kami akan kisahkan sebuah kisah perjuangan dari seorang tokoh sufi yang berasal dari daerah Bagdad (sekarang Iraq) yang sangat keras dalam menundukkan hawa nafsunya yaitu kisah dari seorang tokoh sufi yang sangat terkemuka dan mendapat julukan sebagai orang yang memperoleh cahaya. dan sebagaimana tercatat dalam sejarah, tokoh sufi terkemuka memang banyak yang berasal dari sana. sebut saja seperti Imam Junaid,sari As-saqathi dan banyak yang lainnya. dan salah satu diantaranya akan kami kisahkan pada kesempatan kali ini, yaitu Abul Hasan An-nuri. 

Abul Husain Ahmad bin Muhammad An-nuri adalah seorang sufi yang dilahirkan di daerah bagdad, beliau lahir dari sebuah keluarga yang berasal dari daerah khurasan. orang-orang biasa memanggilnya dengan sebutan An-nuri (manusia yang mendapat cahaya) dan konon jika beliau berbicara di dalam sebuah ruangan yang gelap, maka akan timbullah cahaya dari rongga mulutnya yang akan menerangi ruangan gelap itu. dan hal itu menurut saya pribadi hanyalah sebuah perumpamaan untuk seseorang yang telah mampu memberi keterangan terhadap suatu permasalahan dengan baik, sehingga semua yang mendengarkan langsung paham dengan apa yang dimaksudkannya. atau bisa jadi juga adalah sebuah perumpamaan untuk seseorang yang mampu mengajak seorang lainnya yang berada di dalam kegelapan (kemaksiatan) untuk menuju kebaikan (cahaya). beliau (An-nuri) adalah salah satu murid dari seorang tokoh sufi terkemuka yang juga sekaligus adalah paman dari Imam Junaid Al-bagdadi yaitu Sari As-shaqati. An-nuri sebagai tokoh sufi yang terkemuka di Bagdad juga telah banyak menggubah syair-syair mistis yang sangat indah dan beliau meninggal pada tahun 295 H atau 908 M.

Dari versi berbeda mengatakan jika Abul Husain mendapat gelar An-nuri (manusia yang mendapat cahaya) adalah dikarenakan sebuah gua yang biasa ia gunakan sebagai tempat menyendiri yang berada di tengah gurun pasir yang luas, dan jika Abul husain tengah berada di tempat itu maka pada saat malamnya akan terlihat cahaya yang memancar keluar dari tempat itu, wallahualambissawab. memang pada awal mula dirinya bertasawuf ia lebih sering menyendiri guna mengekang getaran hawa nafsunya, ia meninggalkan segala pergaulan yang ramai dan semua kegiatan yang sama sekali tidak bermanfaat. dan meskipun demikian halnya ia sama sekali belum merasa berhasil sedikitpun. beliau terus saja melipat gandakan perjuangannya di jalan Allah dengan cara menyendiri tersebut.

'' aku harus melakukan semua upaya untuk memperbaiki diriku sendiri, jika tidak demikian maka biarlah aku mati saja agar terlepas dari hawa nafsu ini'' kata An-nuri kepada hatinya sendiri, ia memang ingin benar-benar meninggalkan semua hawa nafsunya itu.

'' wahai jasmaniku, bertahun-tahun sudah engkau menuruti hawa nafsu mu sendiri, semuanya telah engkau lakukan, bersenang-senang dan memuaskan hasrat mu itu. dan sekarang masuklah engkau ke dalam penjara ku, engkau akan ku belenggu dan akan ku kalungkan kepada mu segala perintah-perintah dari tuhanku, jika seandainya engkau sanggup bertahan dalam keadaan seperti itu, kuyakin engkau pasti akan meraih kebahagiaan sejati. akan tetapi jika kau tidak sanggup, setidaknya engkau akan mati di atas jalan Allah '' katanya kepada diri sendiri.

Akhirnya setelah berkata demikian An-nuri menempuh jalan ilahi dengan disiplin diri yang sangat tinggi, dan pada keadaan yang seperti itu terbayang olehnya para tokoh-tokoh sufi yang memiliki kedisiplinan diri dan mawas yang sangat terhadap apa yang disebut oleh mereka hawa nafsu itu, sehingga mereka bisa mengetahui semua rahasia-rahasia itu. dan dengan demikian ia pun merasa hatinya jauh belum seperti hati para hamba-hamba Allah yang suci itu, akan tetapi ia terus merenungkannya. ia yakin bahwa setiap perkataan nabi dan para hamba Allah yang suci adalah suatu kebenaran.

Kemudian akhirnya ia pun sampai kepada sebuah keputusan tentang merenungi keadaan dirinya sendiri '' mungkin saja selama ini aku telah bersikap munafik terhadap diri ku sendiri dalam usaha ku selama ini sehingga akhirnya kegagalan-kegagalan ini terus saja mendatangiku, kini aku baru tahu jikalau disini tidak ada cukup tempat untuk berbeda pendapat, mulai saat ini aku akan merenungi diriku sendiri sampai aku memang benar-benar mengenalnya '' ungkap An-nuri di dalam hatinya. dan setelah berkata demikian ia pun terus merenungi siapa dirinya itu dengan sangat khidmad. dan hasilnya, ia pun akhirnya menemukan semua jawaban yang dicarinya itu.

'' ternyata yang menjadi kesalahan ku yang selama ini terus membuat ku gagal dalam setiap usahaku adalah hati dan hawa nafsuku ternyata masih bersatu padu, dan sebab demikian itu jika ada sesuatu yang menyinari hatiku, maka hawa nafsuku pun bisa menyerapnya sebagian. dan inilah ternyata sumber kegagalan ku yang selama ini, sesuatu yang datang dari hadirat Allah ke dalam hatiku, sebagian dari hawa nafsuku menyerapnya juga '' jelas An-nuri di dalam hatinya sendiri.

dan sejak saat itu juga ia merubah segala pola hidupnya, ia semakin mempertinggi tingkat kedisiplinan dirinya. terlebih lagi dalam hal menyangkut hati dan hawa nafsunya. jika hawa nafsunya menginginkan ssuatu, maka ia dengan tegas akan menolaknya termasuk juga ketika hawa nafsunya itu menginginkan ia kedalam hal yang penuh kebaikan, bahkan dengan lebih berani lagi ia malah akan berbuat yang sebaliknya sehingga lama-kelamaan akhirnya segala hal yang diperkenankan hawa nafsunya itu dapat ia buang jauh-jauh. dan mulai sejak itulah akhirnya rahasia-rahasia mistik mulai tersingkap satu-persatu dihadapannya.

dalam ke asyikannya ber-taqarrub ilallah ia pun mendengar sebuah dialog didalam dirinya sendiri '' siapakah engkau ?
'' aku adalah sebuah mutiara dari dalam lubuk tanpa hasrat, dan katakanlah kepada semua murid-muridmu, lubukku adalah lubuk yang tanpa hasrat dan sedangkan mutiaraku adalah mutiara dari lubuk tanpa maksud '' terdengar oleh An-nuri sebuah penjelasan kepada dirinya

dan pernah juga diceritakan saatr An-nuri berdiri ditepi sungai tigris, ia berdiri disanan diantara dua biduk dan kemudian ia pun berkata '' aku tidak akan beranjak dari tempat ini walau selangkahpun sebelum seekor ikan masuk kedalam jala-ku'' katanya

benar saja, tak lama kemudian masuklah seekor ikan kedalam jalanya itu maka ia pun sangat puas '' alahamdulillah, perjuangan ku telah berhasil '' ungkapnya

dan kemudian ketika ia berkunjung ke rumah seorang tokoh sufi terkemuka di daerah Bagdad, yakni Imam Junaid Al-bagdadi, ia pun menceritakan peristiwa yang telah dialaminya tersebut dan kemudian An-nuri berkata '' Allah telah memberikan sebuah karunia-Nya kepaku ''

'' wahai Abul Husain An-nuri, ketahuilah olehmu !! jika yang terjerat di dalam jala mu itu adalah seekor ular, maka hal itu barulah bisa disebut sebagai karunia, akan tetapi yang nyatanya terjerat olehmu itu adalah seekor ikan dan karena engkau telah campur tangan, hal itu hanyalah sebuah tipuan, bukanlah sebuah karunia seperti yang kau maksudkan itu. tahukah engkau apakah tanda dari karunia itu wahai Abul Husain An-nuri ?? '' kata Imam Junaid Al-bagdadi kepada An-nuri

mendapat penjelasan yang demikian akhirnya An-nuri pun terpaku dan menggelengkan kepalanya terhadap pertanyaan Imam Junaid Al-bagdadi.

'' tidak, ternyata aku tidak tahu sama sekali akan hal itu '' kata An-nuri jujur

'' maka ketahuilah oleh mu, bahwa tanda dari sebuah karunia itu adalah engkau sama sekali sudah tidak ada disana lagi '' jelas Imam Junaid kepada Abul Husain An-nuri.

demikianlah kisah perjuangan An-nuri dalam memisahkan antara hati dan hawa nafsunya yang masih bersatu padu, dan semoga bermanfaat bagi pembaca

terimakasih atas kunjungannya ke kisahsufidanmutiarahikmah.com

baca juga kisah sufi lainnya :

 

.
.
-->

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "perjuangan berat An-nuri dalam memisahkan antara hati dengan hawa nafsunya yang masih bersatu-padu"

Post a Comment